Sabtu, 24 Maret 2012

OKSIDENTALISME


GAGASAN OKSIDENTALISME
HASSAN HANAFI

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
“OKSIDENTALISME”


Dosen Pembimbing
Ummu Iffah S.Ag, M.Fil.I

logo stain TA









Disusun Oleh :
Adib Hasani (3231093016)




Jurusan Ushuluddin
Program Studi Tafsir Hadits
Semester Lima
Program S-1

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) TULUNGAGUNG
2011
OKSIDENTALISME HASSAN HANAFI*

Oksidentalisme berasal dari kata occidental yang berarti berkenaan dengan Barat. Dengan demikian oksidentalisme merupakan gerkan atau faham yang mana Barat dijadikan objeknya.
Hassan hanafi adalah Tokoh muslim kontemporer dari Mesir. Ia lahir di Kairo, ibukota Republik Arab Mesir  pada tanggal 13 Februari 1935. Pendidikannya ia tempuh dalam negrinya sendiri dari awal sampai lulus kuliyah di fakutas Adab jurusan ilsafat di Universitas Kairo. Selanjutnya ia mendapatkan penghargaan atas karya monumentalnya yaitu Essai sur la Methode d’Exegse (Essai tentang metode Penafsiran). Karya ini telah diselesaikannya di Universitas Sorbonne  dengan tebal 900 halaman. Esai tersebut merupakan upayanya untuk menghadapkan ilmu Ushul Fiqh (teori Hokum Islam) dengan filsafat fenomenologi yang dirintis oleh Edmund Hussrel.
Hassan Hanafi terkenal dengan pemikiran Kiri Islamnya. Di dalam Kiri Islam terdapat pikiran-pikiran Hanafi tentang hal-hal yang bernafas revolusioner. Diantara tema-tema pikiran tersebut adalah tentang revitalitas hasanah Islam klasik, Realitas dunia Islam, agama dan revolusi, integritas bangsa, dan juga oksidentalisme (menantang Barat).
John L. Eposito dan John O. Voll membagi kerangka fenomena Oksidentalisme yang digagas olah Hassan Hanafi menjadi tiga:

A.    Kerangka pertama
Hassan Hanafi pernah menghadiri Dewan Vatikan di Roma pada tahun 1964. Disana  dia melihat  “ribuan kardinal” yang memilih pernyataan keimanan dan kitab tanpa mau tau bagaimana iman itu terbentuk dan kitab tersebut dituliskan. Ketika Hanafi bertanya kepada mereka tentang hal itu, mereka menjawab  bahwa roh kudus ada pada diri mereka sehingga mereka terbebas dari kesalahan. Selanjutnya mereka mengatakan pada Hanafi bahwa meskipun dia (Hanafi) memiliki pengetahuan dia mungkin sekali melakukan kesalahan. Dari pengalamannya tersebut Hanafi menyimpulkan bahwa dia menemukan antara nafsu dan akal, dan antara keimanan dan ilmu pengetahuan. Dari itu Hanafi mengatakan “Sewaktu-waktu apabila saya merasa terdapat kontradiksi antara teologi dan ilmu pengetahuan, saya memilih ilmu pengetahuan”.
Dari kerangka itu Hanafi bertujuan untuk menciptakan suatu ilmu pengetahuan untuk memaham Barat. Ilmu tersebut sebagai antonym dari Orientalisme yang telah lama ditekuni Barat untuk mengkaji timur termasuk Islam. Hanafi menyebut Ilmu baru ini Oksidentalisme.

B.     Kerangka Kedua
Kerangka kedua Hanafi mengembangkan Oksidentalisme adalah sebagai respon langsung terhadap imperialism yang tidak lepas dari intervensi Orientalisme didalamnya. Ini merupakan yang sering dibahas Hanafi dalam karyanya. Dia berpendapat bahwa Orientalisme pada dasarnya merupakan sebuah alat yang digunakan oleh Barat untuk mengekspresikan dan menguatkan kekuasaannya atas Negara-negara lain. Dengan alat itu Barat mampu melucuti kekuatan Negara-negara timur dan menguatkan  persenjataan Dirinya sendiri.
Oksidentalisme merupakan respon kelompok yang terjajah terhadap dominasi Barat. Memang secara formal politik dan kekuasaan, Negara-negara telah merdeka dari penjajahan Barat (kecuai sebagian). Akan tetapi bagi Negara-negara ketiga kenyataan merdeka sebenarnya belum diperoleh. Menurut Hassan Hanafi kemerdekaan harus lengkap :
Oksidentalisme adalah suatu bidang pengetahuan yang terdapat di Negara-negara dunia ketiga untuk melengkapi proses dekolonisasi. Dekolonisasi militer, ekonomi, dan politik tidak lengkap tana dekolonisasi kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Selama Negara-negara jajahan sebelum atau sesudah liberasi masih merupakan objek penelitian, maka dekolonisasi tidak akan lengkap/ sempurna. Dekolonisasi tidak akan lengkap kecuali sesudah liberasi objek menjadi subjek dan transformasi dari yang diobservasi menjadi yang mengobservasi.
Hanafi mnginginkan orang di luar barat mengetahui realita masyarakat Barat. Dengan demikan harapannya semua orang menyadari bahwa untuk membangun diri sendiri tidak perlu melulu berkiblat pada Barat karena hal itu seperti bunuh diri. Untuk menjadi modern tidak harus mengcopy paste Barat. Tradisi autentik dari diri sendiri sebenarnya memiliki potensi besar untuk membangun kekuatan peradaban. Dengan catatan semangat perjuangan mengentaskan ketertindasan, kemiskinan, dan keterbelakangan harus tetap menyala.
Hanafi memandang jika pembaratan terus menerus terjadi pada dunia ketiga, hasilnya akan selalu terjadi ketrgantungan cultural yang semakin besar pada Barat. Dari itu, oksidentalisme sebagai sebuah ilmu pengetahuan memberikan perioritas pada endogen di atas eksogen, kepada interior di atas eksterior, keada diri diatas yang lain. Oksidentalisme sebagai sebuah pergerakan cultural bertujuan mentransformasikan masyarakat yang sedang berkembang dari transfer pengetahuan menuju kreativitas cultural.
Munculnya Oksidengtalisme akan membawa realitas bahwa sebenarnya peradaban tidak terpusat pada satu poros. Peradaban bersifat heterogen dan plural. Sampai saat ini kebudayaan dunia masih menjadi sebuah mitos yang  diciptakan oleh kebudayaan pusat/Barat untuk mendominasi sekitarnya atas nama akulturasi. Disini Oksidentalisme berperan untuk mengkritik peradaban Barat dari sudut pandang non Barat dan mengungkapkan independensi cultural “Orient”.

C.    Kerangka Ketiga
Kerangka ketiga dimana pandangan Hanafi tentang Oksidentalisme harus diertimbangkan adalah pemikirannya yang lebih akhir yang menyerukan pentingnya sebuah “lmu Pengetahuan Sosial Baru”. Ini merupakan perkebangan kritik terhadap perspektif ilmu pengetahuan sosial Barat, dari para sarjana barat maupun non-Barat, dan artikulasi suatu kesadaran ilmu pengetahuan dunia baru.
Perspektif baru ini berargumentasi bahwa ilmu pengetahuan sosial Barat bukanlah ilmu pengetahuan yang tidak punya kesalahan yang bebas dari prasangka melainkan berorientasi ideologis dan bermotif politis. Kritik ilmu pengetahuan sosial Barat juga memberi dasar asumsi ilmu pengetahuan sosial baru Hanafi. Ilmu pengetahuan Barat menekankan obyektifitas, netralitas, dan universalisme. Dalam pandangan Hanafi,
Obyektifitas merupakan sebuah mitos, tidak hanya dalam ilmu pengetahuan sosial tetapi juga dalam ilmu pengetahuan alam. Karena dunia ini dialami, diindera, dan dikonsepkan, maka selalu menjadi dunia yang subjektif… Netralitas adalah mitos lain untuk membunyikan atau memutupi sikap memihak. … Universalisme adalah mitos ketiga. Tidak ada ilmu pengetahuan sosial yang absolute. Ilmu pengetahuan sosial berhubungan dengan masyarakat yang berkembang di dalam sejarah dan terikat pluralism budaya.  Berbagai pretensi atau keinginan akan universalisme kenyataan merupakan suatu keinginan akan hegemoni.
Oksidentalisme menjadi suatu cara bagi Hanafi untuk membahas Barat dengan cara yang sama ketia dia mengamati tradisi Islam. Sebgaimana yang telah dikutip John L. Epposito bahwa Hassan Hanafi mengatakan bahwa:
Eurosentris (pemusatan pada Eopa) dapat membangkitkan Euosentris-tandingan yang tetap saja merupakan Eurosentris meskipun dijungkirbalikkan… Menciptakan dunia konseptual menyeluruh, suatu metodologi baru dan mencapai hasil-hasil baru membutuhkan proses de-Baratisasi dan pada saat yang sama memulai semua bidang penelitian sebelum Dunia Ketiga menjadi independen secara konseptual maupun ideologis. Untuk saat ini, apabila ilmu pengetahuan  sosial baru hanya merupakan suatu reaksi terhadap ilmu pengetahuan sosial Barat,maka hal ini membantu dalam proses pernyataan-diri, minimalisasi penindasan eksogenitas dan memaksimalkan kebebasan endogenitas.




Tugas ditulis oleh:
Nama                 : Adib Hasani
NIM                   : 3231093016
Jurusan/ Prodi    : Ushuludin/ THK 5

*Referensi diambil dari : John L. Eposito, John O. Voll. Tokoh-tokoh Gerakan Isam Kontemporer. penerjemah Sugeng Harianto Dkk. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2002.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar