Sabtu, 24 Maret 2012

TAKHRIJ HADIS TSAQALAIN DALAM KITAB MUNTAKHAB KANZUL UMMAL DAN TAFSIR AL-RAZI


Oleh: Adib Hasani dan Devid Harianto

A.    Pendahuluan
Telah selesainya hadis Nabi SAW dalam proses pembukuannya, tidak berarti lepas dari segudang permasalahan. Salah satu permasalahan tersebut adalah dalam aspek kualitas keshahihan hadits. Oleh kerena itu, untuk mengetahui lebih lanjut dan lebih mendalam tentang kualitas keshahihan hadist, perlu adanya pen-takhrij-an terhadap hadist terkait, yaitu dengan melakukan dengan cara melakukan penelitian sanad. Adapun langkah yang paling sederhana dalam melakukan penelitian sanad hadist adalah dengan mencari biografi antara para perawi, relasinya antara guru dengan murid. Dan yang paling mendasar adalah adanya komentar/penilaian dari ulama yang lainnya terhadap kepribadianpara rawi terkait  serta hal-hal yang berkaitan dengan periwayatannya.
Dari langkah-langkah sederhana di atas, yang penulis jadikan sebuah cara dalam rangka penelitian sanad hadist terhadap hadist tsaqalain yang terdapat dalam Kitab al-Razi dan KitabMuntakhab Kanzul Umal[1].
B.     Hadist Tsaqalain dari Kitab Tasir al-Razi
Dalam kitab Tafsir al-Razi tidak ditemukn Hadits-hadits tsaqalain dengan informasi sanad yang lengkap. Kami menemukan hadits dengan redaksi seperti berikut ini:
  عن أبي سعيد الخُدْريّ عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال : « إني تارك فيكم الثقلين ، كتاب الله تعالى حبل ممدود من السماء إلى الأرض ، وعترتي أهل بيتي »
Kemudian kami mencoba menelusuri hadits tersebut pada Kitab Tabaqah al-Kubra. Kami menemukan Hadits dengan redaksi matan yang mirip dengan Rawi al-a’la yang sama yaitu Abi Sa’id al-Khudri.
أخبرنا هاشم بن القاسم الكناني أخبرنا محمد بن طلحة عن الأعمش عن عطية عن أبي سعيد الخدري عن النبي صلى الله عليه و سلم قال إني أوشك أن أدعى فأجيب وإني تارك فيكم الثقلين كتاب الله وعترتي كتاب الله حبل ممدود من السماء إلى الأرض وعترتي أهل بيتي وإن اللطيف الخبير أخبرني أنهما لن يفترقا حتى يردا علي الحوض فانظروا كيف تخلفوني فيهما
1.      Analisis Ittishal al-Sanad
Untuk mengetahui sanadnya muttashil atau tidak perlu menganalisis guru-muridnya sebagai berikut:
a.       ‘Athiyah
1)      Nama lengkap: ‘Athiyah bin Sa’id bin Janadah al-‘Aufiy al-Jadaliy, al-Qaisiy al-Kufiy. Nama kunyahnya adalah Abu al-Hasan. Beliau wafat pada tahun 111 H. Beliau adalah dari golongan syi’ah.
2)      Guru-gurunya antara lain: ‘Abdullah bin ‘Abbas, Abi Sa’id al-Khudriy, Abu Hurairah, ‘Abdullah bin ‘Umar bin al-Khaththab.
3)      Murid-muridnya antara lain: Sulaiman al-A’masy, Zakaria bin Abi Zaidah, Salim bin Abi Hafshah, Shalih bin Muslim. 
b.      Al-A’masy
1)      Nama lengkap: Sulaiman bin Mahran al-Asady al-Kahily, kunyahnya Abu Muhammad al-Kufiy al-A’masy. Lahir pada tahun 61 H dan Wafat pada tahun 147 H atau 148 H pada umur 88 tahun. Beliau termasuk golongan tabi’in kecil. Beliau berasal dari Thabaristan dari desa  Danbawandi, dia dibawa oleh ayahnya ke Kufah, kemudian dibeli oleh seorang laki-laki dari bani Asad kemudian dia dimerdekakan.
2)      Guru-gurunya antara lain: Habib bin Abi Tsabit, ‘Athiyah al-‘Aufy, Aban bin Abi ‘Iyaasy, Ibrahim al-Taimiy, Ibrahim al-Nakha’iy, Ismail bin Abi Khalid.
3)      Murid-muridnya antara lain: Aban bin Taghlab, Ibrahim bin Thahman, Muhammad bin Thalhah bin Mashraf al-Yamiy al-Kufiy, Muhammad bin Fudlail bin Ghazwan, Muhammad bin Wasi’, Harim bin sufyan, Manshur bin Abi al-Aswad .
c.       Muhammad bin Thalhah
1)      Nama lengkap: Muhammad bin Thalhah bin Mashraf al-Yamiy al-Kufiy. Dia termasuk golongan tabi’it tabi’in besar yang wafat pada tahun 167H.
2)      Gurunya antara lain: Humaid bin Wahab, Humaid al-Thawil, Sulaiman al-A’masy, Salim bin ‘Athiyah, Thalhah bin Mashraf.
3)      Muridnya antara lain: Abu al-Nadlr Hasyim bin al-Qasim, Muhammad bin Bakar bin al-Rayan, Qurah bin Habib al-Qanawiy, ‘Aun bin Salam.
d.      Hasyim bin al-Qasim al-Kananiy
1)      Nama lengkap: Hasyim bin al-Qasim bin Muslim al-Laitsy al-Baghdadiy al-Taimiy al-Khurasaniy. Kunyah-nya Abu al-Nadlar. Laqab-nya Qaishar. Beliau termasuk dalam golongan tabi’it tabi’in kecil yang lahir pada tahun 134 H dan wafat tahun 207 H di Baghdad.
2)      Gurunya antara lain: Sulaiman bin al-Mughirah, Syu’bah bin al-Hajjaj, Muhammad bin Thalhah bin Mashraf, ‘Ikrimah bin ‘Amar, ‘Ubaidillah al-Asyja’iy.
3)      Muridnya antara lain: Ahmad bin Hanbal, Mujahid bin Musa, Muhammad bin Rafi’ al-Naisaburiy, Yahya bin Ma’in.
Dari pemaparan diatas terlihat bahwa seluruh perawi hadits memiliki hubungan guru-murid. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sanad hadits ini muttashil.
2.      Analisis Jarh wa al-ta’dil
a.       Athiyah. Penilaian para ulama tentang beliau:
1)      Muslim bin Hajjaj berkata: Ahmad berkata dan menyebutkan ‘Athiyah al-‘Aufiy, kemudian berkata: dia adalah orang yang lemah hadisnya.
2)      Abi Sa’id berkata bahwa Hasim mendla’ifkan hadisnya ‘Athiyah.
3)      Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata bahwa al-Tsauriy dan Hasyim mendla’ifkan hadisnya ‘Athiyah.
4)      ‘Abbas al-Dauriy berkata: Yahya bin Ma’in menceritakan bahwa dia orang yang shalih.
5)      Abu Zar’ah berkata bahwa dia orang yang lunak/layin.
6)      Al-Nasa;I berkata bahwa dia adalah orang yang dla’if.
7)      Abu Hatim berkata bahwa dia orang yang dla’if yang menulis hadisnya.
8)      Abu Daud berkata: bukan orang yang bisa dibuat pegangan.
9)      Al-Saji berkata: bukan orang yang bisa dibuat hujjah.[2]
b.      Al-A’masy. Penilaian para ulama tentang beliau:
1)      ‘Ali bin al-Madini berkata: yang menjaga ilmu dari umatnya Nabi Muhammad ada enam orang:  bagi ahli Makkah ada ‘Amr bin Dinar, bagi ahli Madinah ada Ibn Syihab al-Zuhri, bagi Abli Kufah ada Abu Ishaq al-Sabi’iy dan Sulaiman bin Mahran al-A’masy, bagi ahli Bashrah ada Yahya bin Abi Katsir Naqilah dan Qatadah.
2)      ‘Abbas al-Dauri berkata: diceritakan dari Sahl bin Halimah berkata: aku mendengar Ibn ‘Uyainah berkata:  al-A’masy mengungguli para sahabatnya sebab enam perkara: dia yang paling banyak membaca al-Qur’an, paling hafal terhadap hadis, paling alim terhadap ilmu faraidl dan dia menyebutkan tabiat yang lain.
3)      Zahir bin Mu’awiyah berkata: saya tidak menemukan seseorang yang lebih mengerti dari pada al-A’masy dan Mughirah.
4)      ‘Amr bin Ali berkata: al-A’masy diberi nama dengan mushaf sebab kejujurannya.
5)      Muhammad bin Abdillah al-Maushuliy berkata: para ahli hadis tidak ada yang lebih kuat dari pada al-A’masy.
6)      Ishaq bin Mansur berkata: diceritakan dari Yahya bin Ma’in: al-A’masy dapat dapat dipercaya/tsiqah
7)      Al-Nasa’I berkata: dapat dipercaya dan stabil.
8)      Ibn Hajar menetapkannya sebagai orang yang dapat dipercaya, hafidh, mengetahui ilmu qira’at, wara’, tetapi juga mudallis.[3]
c.       Muhammad bin Thalhah. Penilaian para ulama tentang beliau:
1)      Ibn Hajar menggolongkannya sebagai orang yang benar, dia punya banyak khayalan, para ulama’ mengingkari pendengarannya dari ayahnya karena dia masih kecil.
2)      Al-Nasa’i berkata: dia bukan termasuk orang yang kuat hafalannya.
3)      Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: diceritakan dari ayahnya: dia tidak apa-apa.
4)      Abu Bakar bin Abi Khaitsamah berkata: Yahya bin Ma’in ditanya tentang Muhammad bin Thalhah, dia berkata: shalih.
5)      Ishaq bin Manshur berkata: diceritakan dari Yahya bin Ma’in: dia dla’if.
6)      Abu Zar’ah berkata: dia orang Shalih.
7)      Al-‘Aqiliy berkata: Ahmad berkata: tsiqah. [4]
d.      Hasyim bin al-Qasim al-Kananiy. Penilaian para ulama tentang beliau:
1)      Ibn Hajar menggolongkannya sebagai orang yang dapat dipercaya (tsiqah) dan kukuh (tsabat).
2)      Al-Dzahabi menggolongkannya sebagai hafidh dan tsiqah.
3)      Utsman bin Sa’id al-Darimiy berkata: diceritakan dari Yahya bin Ma’in bahwa dia itu tsiqah.
4)      Ibnu Qani’ berkata: Tsiqah.
5)      Ibn ‘Abd al-Bar berkata: para ulama’ sepakat bahwa dia benar (shaduq).
6)      Al-Nasa’I berkata: tidak apa-apa.[5]
Berdasarkan pendapat para Ulama’ diatas ditemukan bahwa ‘Atiyah oleh sebagian besar ulama dihukumi Dho’if, Al-amasy oleh sebagian besar ulama dinilai baik dan tsiqah, Muhammad bin Tholhah bin Mashraf banyak yang menilainya tsiqah akan tetapi sebagian ulama juga menilainya dho’if, dan Hasyim bin al-Qasim al-Kananiy sebagian besar ulama mengatakan orang yang dapat dipercaya, tsabit dan shaduq.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hadits dari kacamata jarh wa al-ta’dil para ulama dinilai dho’if.
C.    Kitab Muntakhab Kanzul Ummal
Dalam kitab Muntakhab Kanzul Ummal ditemukan Hadits tsaqalain dengan sanad dan redaksi seperti berikut:
إني لا أجد لنبي إلا نصف عمر الذي كان قبله وإني أوشك أن أدعى فأجيب فما أنتم قائلون قالوا نصحت قال أليس تشهدون أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله وأن الجنة حق وأن النار حق وأن البعث بعد الموت حق قالوا نشهد قال وأنا أشهد معكم ألا هل تسمعون فإني فرطكم على الحوض وأنتم واردون علي الحوض وإن عرضه أبعد ما بين صنعاء وبصرى فيه أقداح عدد النجوم من فضة فانظروا كيف تخلفوني في الثقلين قالوا وما الثقلان يا رسول الله قال كتاب الله طرفه بيد الله وطرفه بأيديكم فاستمسكوا به ولا تضلوا والآخر عترتي وأن اللطيف الخبير نبأني أنهما لن يتفرقا حتى يردا علي الحوض فسألت ذلك لهما ربي فلا تقدموهما فتهلكوا ولا تقصروا عنهما . فتهلكوا ولا تعلوهم فإنهم أعلم منكم من كنت أولى به من نفسه فعلي وليه اللهم وال من والاه وعاد من عاداه
 )طب عن أبي الطفيل عن زيد بن أرقم (
Hadits tersebut sanadnya tidak lengkap yang ada hanya Rawi al-a’la dan satu muridnya yaitu zaid bin Arqam dan Abi Tufayl. Selain itu juga ada symbol طب. Dalam muqadimah kitab Muntaqab Kanzul Ummal simbol طب merupakan singkatan dari al-Thabarani. Maksudnya hadits tersebut diambil dari kitab Mu’jam Kabirnya al-Thabarani. Setelah dilakukan penelusuran ditemukan hadits diatas dengan sanadnya berikut:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بن عَبْدِ اللَّهِ الْحَضْرَمِيُّ ، حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بن حُمَيْدٍ ، ح
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بن عُثْمَانَ بن أَبِي شَيْبَةَ ، حَدَّثَنَا النَّضْرُ بن سَعِيدٍ أَبُو صُهَيْبٍ ، قَالا : حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بن بُكَيْرٍ ، عَنْ حَكِيمِ بن جُبَيْرٍ ، عَنْ أَبِي الطُّفَيْلِ ، عَنْ زَيْدِ بن أَرْقَمَ ، قَالَ : نَزَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْجُحْفَةِ ،ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ ، فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ، ثُمَّ قَالَ : إِنِّي لا أَجِدَ لِنَبِيٍّ إِلا نِصْفُ عَمْرِ الَّذِي قَبْلَهُ ، وَإِنِّي أُوشَكُ أَنْ أُدْعَى فَأُجِيبُ ، فَمَا أَنْتُمْ قَائِلُونَ ؟ قَالُوا : نَصَحْتَ ، قَالَ : أَلَيْسَ تَشْهَدُونَ أَنَّ لَا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقُّ وَأَنَّ الْبَعْثَ بَعْدَ الْمَوْتِ حَقٌّ ؟ قَالُوا : نَشْهَدُ ، قَالَ : فَرَفَعَ يَدَيْهِ فَوَضَعَهُمَا عَلَى صَدْرِهِ ، ثُمَّ قَالَ : وَأَنَا أَشْهَدُ مَعَكُمُ ، ثُمَّ قَالَ : أَلا تَسْمَعُونَ ؟ قَالُوا : نَعَمْ ، قَالَ : فَإِنِّي فَرْطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ وَأَنْتُمْ وَارِدُونَ عَلَيَّ الْحَوْضَ ، وَإِنَّ عُرْضَهُ أَبْعَدُ مَا بَيْنَ صَنْعَاءَ وَبُصْرَى ، فِيهِ أَقْدَاحٌ عَدَدَ النُّجُومِ مِنْ فِضَّةٍ ، فَانْظُرُوا كَيْفَ تُخْلِفُونِي فِي الثَّقَلَيْنِ ؟ فَنَادَى مُنَادٍ : وَمَا الثَّقَلانِ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : كِتَابُ اللَّهِ طَرَفٌ بِيَدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَطَرَفٌ بِأَيْدِيكُمْ فَاسْتَمْسِكُوا بِهِ لا تَضِلُّوا ، وَالآخَرَ عِتْرَتِي ، وَإِنَّ اللَّطِيفَ الْخَبِيرَ نَبَّأَنِي أَنَّهُمَا لَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ ، وَسَأَلْتُ ذَلِكَ لَهُمَا رَبِّي ، فَلا تَقْدُمُوهُمَا فَتَهْلَكُوا ، وَلا تَقْصُرُوا عَنْهُمَا فَتَهْلَكُوا ، وَلا تُعَلِّمُوهُمْ فَإِنَّهُمْ أَعْلَمُ مِنْكُمْ ، ثُمَّ أَخَذَ بِيَدِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ ، فَقَالَ : مَنْ كُنْتُ أَوْلَى بِهِ مِنْ نَفْسِي فَعَلِيٌّ وَلِيُّهُ ، اللَّهُمَّ وَالِ مَنْ وَالاهُ وَعَادِ مَنْ عَادَاهُ .
Terlihat pada hadits diatas al-Thabarani menuliskan hadits dari dua jalur Shanad. Jalur Sanad pertamanya adalah: Zaid bin arqam, Abu Thufayl, Hakim bin Jubairi, Abdullah bin Bukairi, Ja’far bin Humaidi, Muhammad bin Abdillah al-Hadrami. Sedangkan jalur sanad kedua adalah: Zaid bin arqam, abu Thufayl, Hakim bin Jubairi, Nadhar bin Sa’id Abu Shuhaib, Muhammad bin Usman bin Abi Syaibah. Dari situ terlihat  pertemuan dua jalur sanad tersebut pada satu guru yaitu Abdullah bin Bukairi.
1.      Analisis Ittishal al-Sanad
a.       Ittishal al-sanad pertama
Terkait ketersambungan sanad tersebut dapat dilihat dari hubungan guru-murid para perawi sebagai berikut:
1)      Abu Tufayl
a)      Nama lengkapnya, Amir bin Wasilah bin Abdullah bin Umar bin Jahsyi Alaisi, Abu Tufail. Wafat 110 H
b)      Guru-gurunya: Nabi SAW, Salman al-Farisi, Abdulah bin Abas, Abu Bakar, Abdullah bin Abi Kuhafah al-Shadiq, Zaid bin Arqam Abdullah bin Mas’ud, Ali bin Abi Thalib, Umar bin Khatab, Mu’adz bin Jabal
c)      Murid-muridnya: Ismail bin Muslim al-Makki, Hakim bin Jubair, Salamah abi Tufail Alaisi, Ikrimah bin Khalid al-Makhzumi, Umar bin Dinar, Qatadah, Hakim bin Jubair al-Khufi al-Asadi,
2)      Hakim bin Jubairi
a)      Nama lengkapnya Hakim bin Jubair al-Khufi al-Asadi, dan ada juga yang menyebutnya Maula Ali al-Hakim bin Abi al-‘Ash al-Tsaqafi
b)      Guru-gurunya: Abu Tufail Amir bin Watsilah Alaisi, Sa’id bin Jubair, Abd Khair al-Hamdani, Muhammad bin Abd al-Rahman bin Yazid al-Nakh’I, Musa bin Talhah bin Abdilah
c)      Murid-muridnya: Israil bin Yunus, Ismail bin Sa,mi’, Sulaiman al-A’masy, Shabah bin Hajjaj, Abdullah bin Bukhair al-Ghanawi, Sufyan al-Tsauri,
3)      Abdullah bin Bukairi
a)      Nama lengkapnya Abdullah bin Bukairi al-Ghanawi al-Kufi.
b)      Gurugurunya: Hammad bin Abi Sulaiman, Muhammad bin Sauqah, Hakim bin Jubair, Jahm bn Dinar
c)      Murid-muridnya: Abd al-Rahman bin Mahdi Abu naim Mumammad bin al-Hasan al-Tamimi, Lais bin Khalid.
4)      Ja’far bin Humaid
a)      Nama lengkap Ja’far bin Hamid al-Qursyi, Abu Muhammad al-Kufi. Beliau wafat pada tahun 240 H.
b)      Guru-gurunya: Isma’il bin ‘Iyasy, Hadij bin Muawiyah al-Ja’fy, Hafs bin Sulaiman al-Qari’I, abi al-Ahush Salam bin Salim, Syariq bin Abdillah an-Nakh’I, Abdullah bin Bukairi al-Ghanawi, Abdullah bin al-Mubarak, Abdu al-Rahman bin Abi al-Zanad, Ubaidillah bin ‘Iyad bin laqith, Ali bin Dhibyan, Musa bin Umair al-Qursi, al-Walid bin Abi Sauri, Ya’kub bin Abdillah al-Qumi, Yunus bin Abi Ya’fur.
c)       Murid-muridnya, Musim, Ibrahim bin yusuf bin Khalid, Abu Ya’la Ahmad bin Ali bin al-Mushali, Muhammad bin Abdillah bin Sulaiman al-Hadrami, Muhammad bin Usman bin Abi Syaibah, Musa bin Ishaq bin Musa al-Anshari.
5)      Muhammad bin Abdillah al-Hadrami
Sejauh penelusuran kami, informasi tentang Guru dan Murid Muhamad bin Abdillah al-Hadrami belum kami temukan.
Dari pemaparan guru-murid diatas terlihat bahwa ada satu rawi yang belum terlacak jelas guru muridnya yaitu Muhammad bin Abdillah al-Hadrami. Sejauh pelacakan kami di maktabah syamilah memang belum menemukan dengan jelas siapa guru dan muridnya. Meskipun demikian agaknya indikasi ketersambungan sanad masih didapatkan dari pertimbangan-pertimbangan berikut:
1)      Adanya keterangan bahwa beliau termasuk kelompok gurunya Ja’far bin Humaid. Ja’far bin Hamid merupakan rawi yang memiliki derajat tsiqah menurut ibn Hajar dan al-Dzahabi.
2)      Menurut sebagian ulama beliau berderajat tsiqah. Sehingga ada jaminan kalau beliau tidak melakukan kebohongan.
3)      Dalam tahamul wa al-ada’nya menggunakan redaksi “hadatsana” yang mengindikasikan beliau bertemu dengan gurunya.
Dengan demikian, meskipun secara Dzanni kami berkesimpulan bahwa antara Muhammad bin Abdillah bin al-Hadrami dan Ja’far bin Humaid ada hubungan Guru dan murid.
Selanjutnya terkait Abdullah bin Bukairi kami sudah menemukan beberapa guru dan muridnya. Akan tetapi, kami tidak menemukan Ja’far bin Humaid dalam kelompok muridnya. Begitu juga dengan Hakim bin Jubairi tidak kami temukan dalam kelompok Gurunya.[6] Meskipun demikian ada beberapa hal yang patut dipertimbangkan untuk menilai ketersambungan guru-murid diantara mereka:
1)      Ada keterangan bahwa beliau termasuk dalam kelompok guru-guru Ja’far bin Humaidi.
2)      Ada keterangan bahwa beliau termasuk dalam kelompok Murid Hakim bin Jubairi.
Dari itu meskipun secara dzanni pula kami menyimpulkan bahwa ada indikasi hubungan Guru-murid yang kuat  antara Ja’far bin Humaidi, Abdullah bin Bukairi, dan Hakim bin Jubairi.
b.      Ittishal al-Sanad kedua
Dari keterangan diatas telah jelas bahwa antara Zaid bin Arqam, Abu Thufayl, dan Hakim bin Jubairi ada hubungan guru-murid. Adapun tentang keterangan rawi selanjutnya pada sanad kedua ini adalah sebagai berikut:
1)      Nadhar bin Sa’id Abu Shuhaib
a)      Nama lengkap; Nadhr bin Said Abu Shuhaib, menurut Ibnu Qani’ ia seorang yang berstatus lemah.
b)      Guru- gurunya; al-Walid bin Abi Tsaur al-Marwazi dan lain-lain (jama’ah).
c)      Sedangkan muridnya Muhammad bin Ustman bin Abi Syaibah dan Mathin (Muhammad bin Abdullah al-Hadrami). Menurut Ibnu Hatim ia termasuk orang Syiah yang telah dimerdekakan.
2)      Muhammad bin Usman bin Abi Syaibah
a)      Nama lengkap Muhammad bin Ustman bin Abi Ayaibah Ibrahim bin Usman Abu Jafar. Ia termasuk penduduk Kufah yang pernah menjadi sahaya dari Bani Abbas.
b)      Guru-gurunya ayahnya sendiri dan kedua pamannya (Abu Bakr dan Qasim), selain itu Ahmad bin Yunus, Manjab bin al-Harist, Said bin Amr al-Asyast, Muhammad bin Imran bin Abi Laila, Alla’ bin Amr al-Hanafi, Yahya al-Hamani, Yahya bin Ma’in, Ali bin al-Madini dan lain sebagainya.
c)      Murid-muridnya; Muhammad bin Muhammad al-Baghindi, Yahya bin Muhammad bin Gaid, al-Qadhi al-Mahali, Muhammad bin Mukhallid, Abu Amr bin Sammak, Abu Bakar al-Najjad, Ahmad bin Kamil, Ismail bin Ali al-Khatabi, Ja’far al-Khaldi, Abu Bakar al-Syafii dan lain sebagainya.
Dari pemaparan diatas terlihat bahwa Muhammad bin Usman termasuk dalam kelompok muridnya Nadr bin Said. Sementara kami belum menemukan Nadr bin Said dalam kelompok gurunya Muhammad bin Usman. Begitu juga kami belum menemukan informasi tentang adanya hubungan guru-murid antara Muhammad bin Usman dengan penulis kitab dimana hadits ini ditemukan (Mu’jam al kabir) yaitu al-Thabarani.
Dengan demikan, tentang Ittishal al-sanad hadits ini kami hanya bisa memaparkan sejauh informasi yang kami dapatkan. Kami masih belum bisa menjelaskan dengan pasti kedua jalur sanad tersebut muttashil atau tidak. Hal ini dikarenakan masih ada teka-teki dalam  hubungan guru-murid sebagaimana yang telah dipaparkan diatas.
2.      Jarh wa al-Ta’dil
a.       Jarh wa al-ta’dil rawi sanad pertama
1)      Abu Thufail: beliau adalah sahabat. Sebagaimana pendaat para ulama’ Sahabat terjaga ketsiqahannya. Salah satunya adalah Shalih bin Ahmad yang mengakui ketsiqahan Abu Tufail.
2)      Hakim bin Jubairi
a)      Menurut Abdullah bin Ahmad bin Hanbal: Haditsnya Dhaif
b)      Abu Bakar ibn Abi Khaitsimah Berkata dari Yahya ibn Mu’in: Laisa Bi Syai’
c)      Ibrahim ibn Ya’kub al-Sa’di: Kadzab
d)      Al-Daruquthny: Matruk (tertolak)
e)      Al-Nasai: Laisa bi Qawiyin (tidak kuat)
3)      Abdullah ibn Bukairi al-Ghanawi al-Kufi. Menurut Yahya: La ba’sa bih
4)      Ja’far ibn Hamid al-Qarsyi, al-‘Absii, Abu muhammad al-Kufi. Dalam kitab Tahdzibul kamal:
a)      Abu hatim ibn Hibban berkata “Tsiqat”
b)      Abu Bakar ibn al-Manjuwiyah berkata bahwa “Ja’far ibn Hamid al-Qarsyi wafat setelah tahun 230 H dengan usia 90 th.
c)      Muhammad ibn Abdillah al-Hadrami mengatakan bahwa beliau wafat pada hari jum’at 11 jumadil akhir 240 H. Dan beliau adalah seorang yang tsiqah.
5)      Muhammad bin Abdillah al-Hadrami
Mengenai komentar para ulama tentang Muhammad bin Abdillah, kami belum menemukannya.
Meskipun informasi  tentang kridebelitas Muhammad bin Abdillah al-Hadrami belum kami ketahui, sudah dapat disimpulkan bahwa sanad hadits yang pertama ini adalah dho’if. Hal ini bisa terlihat dari status hakim bin Jubairi yang dinilai matruk, kadzab, dan laisa bi qawiyin oleh para ulama.
b.      Jarh wa al-Ta’dil rawi sanad kedua
1)      Nadhar bin Sa’id Abu Shuhaib
Menurut Ibnu Qani’ ia seorang yang berstatus lemah (dhoif).
2)      Muhammad bin Usman bin Abi Syaibah
a)      Shalih Jazarah; tsiqah.
b)      Ibnu Adi; beliau mengatakan “saya tidak melihatnya hadis munkar yang disebutkannya.
c)      Abdullah bin Ahmad bin Hambali; kadzab.
Dilihat dari komentar-komentar para ulama di atas, dapat disimpulkan bahwa sanad hadits ini juga dho’if.  Kedoifan sanad ini terlihat dari kacamata Ibnu Qani’ yang memberikan status do’if pada Nadr bin Said dan juga Abdullah bin Ahmad bin Hanbal yang memberikan status kadzab pada Muhammad bin Usman.
D.    Kesimpulan
Berdasarkan penelusuran yang telah kami paparkan diatas dapat diambil kesimpulan bawasannya:
1.      Hadits tsaqalain dalam kitab Tafsir al-Razi tidak ditemukan sanad yang lengkap, kemudian kami menemukan sanad yang lengkap dengan redaksi hadits yang mirip dari kitab Tabaqat al-Kabir. Menurut pengamatan kami shanad hadits tersebut sambung (muttasil), akantetapi dari segi kridebelitas rawi ada yang dhaif. Makadari itu dari kacamata kridibelitas perawinya hadits tersbut dha’if.
2.      Hadits tsaqalain yang ada pada kitab Muntaqab Kanzul Ummal tidak disertakan dengan lengkap sanadnya. Pada kitab tersebut hanya disebutkan dua rawi al-a’lanya yaitu Zaid bin Arqam dan Abu Thufail. Setelah itu ada symbol طب  yang mengartkan hadits tersebut diambil dari kitab mu’jamnya al-Thabrani. Kemudian kami menelusurinya pada kitab Mu’jam al-Kabirnya beliau dan kami temukan hadits dengan redaksi dan rawi al-a’la yang sama. Hadits yang kami temukan pada kitab tersebut, disebukan dua jalur sanad yang bertemu pada tabaqat tabi’in. Sehingga kami mencoba menelusuri informasi tentang kedua jalur sanad tersebut. Pada penelusuran kami, tidak ditemukan dengan lengkap informasi guru-murid pada beberapa perawi. Sehingga Ittishalu al-sanad pada beberapa perawi masih bersifat teka-teki. Adapun tentang kridibelitas para perawi hadits tersebut, para ulama banyak yang menghukumi dho’if pada beberapa perawi baik yang ada pada jalur sanad pertama maupun jalur sanad kedua. Sehinga menurut beberapa ulama’ hadits tersebut dho’if.



DAFTAR PUSTAKA

Abi al-Hajjaj Yusuf al-Muziy. tahdzib al-Kamal fi Asma; al-Rijal.  jilid 12, 20, 25, 30. Beirut: Muassasah al-Risaalah. 1992
Fakhru al-Din al-Razi. Tafsir al-Razi. http://www.altafsir.com. Maktabah Syamilah
______, Kanzu al-Ummal. Maktabah Syamilah
Ahmad bin Ali bin Hajar. Lisan al-Mizan. Beirut: Muasasah al-‘Alami li al-Mathbu’at. 1986. Maktabah Syamilah
Abd al-Rahman bin Abi Hatim. al-Jarh wa al-Ta’dil. Beirut: Daru Ihya al-Thuras al-Arabi, Maktabah Syamilah
Yahya bin Main, Tarikh ibnu Ma’in. Damaskus: Dar al-Makmun al-Turats. 1400. (Maktabah Syamilah)



[1] Dalam pengerjaan tugas ini kami banyak dibantu oleh saudara-saudara kami. Maka dari itu Kami ucapkan banyak terimakasih: M.Saepulloh, Ibnu Malik, Mafatihur Ridho, dan Anky Fauzan Alim.
[2] Abi al-Hajjaj Yusuf al-Muziy, tahdzib al-Kamal fi Asma; al-Rijal jilid ke-20, (Beirut: Muassasah al-Risaalah, 1992), hlm. 141-149.
[3]Abi al-Hajjaj Yusuf al-Muziy, Tahdzib al-Kamal fi Asma; al-Rijal jilid ke-12, (Beirut: Muassasah al-Risaalah, 1992), hlm. 76-91.
[4]Abi al-Hajjaj Yusuf al-Muziy, Tahdzib al-Kamal fi Asma; al-Rijal jilid ke-25, (Beirut: Muassasah al-Risaalah, 1992), hlm. 417-421.
[5]Abi al-Hajjaj Yusuf al-Muziy, Tahdzib al-Kamal fi Asma; al-Rijal jilid ke-30, (Beirut: Muassasah al-Risaalah, 1992), hlm. 130-136.
[6] Informasi tentang Abdullah bin Bukari tidak kami temukan dalam tarjamahnya Maktabah Syamilah yang menyebutkan guru-murid lebih lengkap. kami menemukannya pada kitab Lisan al-Mizan,al-Jarh wa al-Ta’dil, dan Tarikh ibnu Ma’in.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar