GAGASAN OKSIDENTALISME
HASSAN HANAFI
Diajukan Untuk
Memenuhi Tugas Mata Kuliah
“OKSIDENTALISME”
Dosen
Pembimbing
Ummu Iffah
S.Ag, M.Fil.I

Disusun Oleh :
Adib Hasani (3231093016)
Jurusan
Ushuluddin
Program Studi Tafsir Hadits
Semester Lima
Program S-1
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN)
TULUNGAGUNG
2011
OKSIDENTALISME HASSAN HANAFI*
Oksidentalisme berasal dari kata occidental yang berarti
berkenaan dengan Barat. Dengan demikian oksidentalisme merupakan gerkan atau
faham yang mana Barat dijadikan objeknya.
Hassan hanafi adalah Tokoh muslim kontemporer dari Mesir. Ia lahir
di Kairo, ibukota Republik Arab Mesir
pada tanggal 13 Februari 1935. Pendidikannya ia tempuh dalam negrinya
sendiri dari awal sampai lulus kuliyah di fakutas Adab jurusan ilsafat di
Universitas Kairo. Selanjutnya ia mendapatkan penghargaan atas karya
monumentalnya yaitu Essai sur la Methode d’Exegse (Essai tentang metode
Penafsiran). Karya ini telah diselesaikannya di Universitas Sorbonne dengan tebal 900 halaman. Esai tersebut
merupakan upayanya untuk menghadapkan ilmu Ushul Fiqh (teori Hokum Islam)
dengan filsafat fenomenologi yang dirintis oleh Edmund Hussrel.
Hassan Hanafi terkenal dengan pemikiran Kiri Islamnya. Di dalam
Kiri Islam terdapat pikiran-pikiran Hanafi tentang hal-hal yang bernafas
revolusioner. Diantara tema-tema pikiran tersebut adalah tentang revitalitas
hasanah Islam klasik, Realitas dunia Islam, agama dan revolusi, integritas
bangsa, dan juga oksidentalisme (menantang Barat).
John L. Eposito dan John O. Voll membagi kerangka fenomena
Oksidentalisme yang digagas olah Hassan Hanafi menjadi tiga:
A.
Kerangka pertama
Hassan Hanafi
pernah menghadiri Dewan Vatikan di Roma pada tahun 1964. Disana dia melihat
“ribuan kardinal” yang memilih pernyataan keimanan dan kitab tanpa mau
tau bagaimana iman itu terbentuk dan kitab tersebut dituliskan. Ketika Hanafi
bertanya kepada mereka tentang hal itu, mereka menjawab bahwa roh kudus ada pada diri mereka sehingga
mereka terbebas dari kesalahan. Selanjutnya mereka mengatakan pada Hanafi bahwa
meskipun dia (Hanafi) memiliki pengetahuan dia mungkin sekali melakukan
kesalahan. Dari pengalamannya tersebut Hanafi menyimpulkan bahwa dia menemukan
antara nafsu dan akal, dan antara keimanan dan ilmu pengetahuan. Dari itu
Hanafi mengatakan “Sewaktu-waktu apabila saya merasa terdapat kontradiksi
antara teologi dan ilmu pengetahuan, saya memilih ilmu pengetahuan”.
Dari kerangka
itu Hanafi bertujuan untuk menciptakan suatu ilmu pengetahuan untuk memaham
Barat. Ilmu tersebut sebagai antonym dari Orientalisme yang telah lama ditekuni
Barat untuk mengkaji timur termasuk Islam. Hanafi menyebut Ilmu baru ini
Oksidentalisme.
B.
Kerangka Kedua
Kerangka kedua
Hanafi mengembangkan Oksidentalisme adalah sebagai respon langsung terhadap
imperialism yang tidak lepas dari intervensi Orientalisme didalamnya. Ini
merupakan yang sering dibahas Hanafi dalam karyanya. Dia berpendapat bahwa
Orientalisme pada dasarnya merupakan sebuah alat yang digunakan oleh Barat
untuk mengekspresikan dan menguatkan kekuasaannya atas Negara-negara lain.
Dengan alat itu Barat mampu melucuti kekuatan Negara-negara timur dan
menguatkan persenjataan Dirinya sendiri.
Oksidentalisme
merupakan respon kelompok yang terjajah terhadap dominasi Barat. Memang secara
formal politik dan kekuasaan, Negara-negara telah merdeka dari penjajahan Barat
(kecuai sebagian). Akan tetapi bagi Negara-negara ketiga kenyataan merdeka
sebenarnya belum diperoleh. Menurut Hassan Hanafi kemerdekaan harus lengkap :
Oksidentalisme
adalah suatu bidang pengetahuan yang terdapat di Negara-negara dunia ketiga
untuk melengkapi proses dekolonisasi. Dekolonisasi militer, ekonomi, dan
politik tidak lengkap tana dekolonisasi kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Selama
Negara-negara jajahan sebelum atau sesudah liberasi masih merupakan objek
penelitian, maka dekolonisasi tidak akan lengkap/ sempurna. Dekolonisasi tidak
akan lengkap kecuali sesudah liberasi objek menjadi subjek dan transformasi
dari yang diobservasi menjadi yang mengobservasi.
Hanafi mnginginkan
orang di luar barat mengetahui realita masyarakat Barat. Dengan demikan
harapannya semua orang menyadari bahwa untuk membangun diri sendiri tidak perlu
melulu berkiblat pada Barat karena hal itu seperti bunuh diri. Untuk menjadi
modern tidak harus mengcopy paste Barat. Tradisi autentik dari diri sendiri
sebenarnya memiliki potensi besar untuk membangun kekuatan peradaban. Dengan
catatan semangat perjuangan mengentaskan ketertindasan, kemiskinan, dan
keterbelakangan harus tetap menyala.
Hanafi memandang
jika pembaratan terus menerus terjadi pada dunia ketiga, hasilnya akan selalu
terjadi ketrgantungan cultural yang semakin besar pada Barat. Dari itu,
oksidentalisme sebagai sebuah ilmu pengetahuan memberikan perioritas pada
endogen di atas eksogen, kepada interior di atas eksterior, keada diri diatas
yang lain. Oksidentalisme sebagai sebuah pergerakan cultural bertujuan
mentransformasikan masyarakat yang sedang berkembang dari transfer pengetahuan
menuju kreativitas cultural.
Munculnya Oksidengtalisme
akan membawa realitas bahwa sebenarnya peradaban tidak terpusat pada satu
poros. Peradaban bersifat heterogen dan plural. Sampai saat ini kebudayaan
dunia masih menjadi sebuah mitos yang
diciptakan oleh kebudayaan pusat/Barat untuk mendominasi sekitarnya atas
nama akulturasi. Disini Oksidentalisme berperan untuk mengkritik peradaban
Barat dari sudut pandang non Barat dan mengungkapkan independensi cultural
“Orient”.
C.
Kerangka Ketiga
Kerangka
ketiga dimana pandangan Hanafi tentang Oksidentalisme harus diertimbangkan
adalah pemikirannya yang lebih akhir yang menyerukan pentingnya sebuah “lmu
Pengetahuan Sosial Baru”. Ini merupakan perkebangan kritik terhadap perspektif
ilmu pengetahuan sosial Barat, dari para sarjana barat maupun non-Barat, dan
artikulasi suatu kesadaran ilmu pengetahuan dunia baru.
Perspektif
baru ini berargumentasi bahwa ilmu pengetahuan sosial Barat bukanlah ilmu
pengetahuan yang tidak punya kesalahan yang bebas dari prasangka melainkan
berorientasi ideologis dan bermotif politis. Kritik ilmu pengetahuan sosial
Barat juga memberi dasar asumsi ilmu pengetahuan sosial baru Hanafi. Ilmu
pengetahuan Barat menekankan obyektifitas, netralitas, dan universalisme. Dalam
pandangan Hanafi,
Obyektifitas merupakan sebuah mitos, tidak hanya dalam ilmu
pengetahuan sosial tetapi juga dalam ilmu pengetahuan alam. Karena dunia ini
dialami, diindera, dan dikonsepkan, maka selalu menjadi dunia yang subjektif… Netralitas
adalah mitos lain untuk membunyikan atau memutupi sikap memihak. … Universalisme
adalah mitos ketiga. Tidak ada ilmu pengetahuan sosial yang absolute. Ilmu
pengetahuan sosial berhubungan dengan masyarakat yang berkembang di dalam
sejarah dan terikat pluralism budaya.
Berbagai pretensi atau keinginan akan universalisme kenyataan merupakan
suatu keinginan akan hegemoni.
Oksidentalisme
menjadi suatu cara bagi Hanafi untuk membahas Barat dengan cara yang sama ketia
dia mengamati tradisi Islam. Sebgaimana yang telah dikutip John L. Epposito
bahwa Hassan Hanafi mengatakan bahwa:
Eurosentris (pemusatan pada Eopa) dapat membangkitkan
Euosentris-tandingan yang tetap saja merupakan Eurosentris meskipun
dijungkirbalikkan… Menciptakan dunia konseptual menyeluruh, suatu metodologi
baru dan mencapai hasil-hasil baru membutuhkan proses de-Baratisasi dan pada
saat yang sama memulai semua bidang penelitian sebelum Dunia Ketiga menjadi
independen secara konseptual maupun ideologis. Untuk saat ini, apabila ilmu
pengetahuan sosial baru hanya merupakan
suatu reaksi terhadap ilmu pengetahuan sosial Barat,maka hal ini membantu dalam
proses pernyataan-diri, minimalisasi penindasan eksogenitas dan memaksimalkan
kebebasan endogenitas.
Tugas ditulis oleh:
Nama :
Adib Hasani
NIM :
3231093016
Jurusan/ Prodi : Ushuludin/ THK 5
*Referensi diambil dari : John L. Eposito, John O. Voll. Tokoh-tokoh
Gerakan Isam Kontemporer. penerjemah Sugeng Harianto Dkk. Jakarta: Raja
Grafindo Persada. 2002.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar